VIRILITAS

Kuratorial by: 
Hardiman
Event: 

Tubuh saya dan dunia membawa wilayah yang kosong,….
Samuel B. Mallin

Hari-hari ini, kita sedang menyaksikan sejumlah lelaki dan bocah lelaki menghadang mata  bertubi-tubi dalam ruang pameran di Mon Decor Gallery ini. Hadir sebagai pokok karya yang direpresentasikan oleh dua seniman. Senimannya juga adalah lelaki. Dua lelaki dari Bali yang lahir dan tumbuh dalam kultur Bali. Dua lelaki itu adalah I Made Supena (selanjutnya saya sebut Supena) dan I Made Galung Wiratmaja (sapaan akrabnya, Galung). Keduanya dalam konteks Bali adalah lelaki yang mengayomi adat yang kuat.

Betapa tidak, dalam kehidupan sehari-harinya, mereka adalah seniman yang senantiasa disibukkan oleh serangkaian upaca adat. Keterikatan dengan adat bagi Supena dan Galung adalah cara untuk senantiasa hadir dalam lingkungan kulturalnya. Bagi Supena dan Galung, sebagaimana bagi orang Bali pada umumnya, adat adalah pedoman dalam tata hidup ber-Tuhan dan bermasyarakat. Sebuah keniscayaan yang menjadi landasan filosofi hidupnya. Nilai adat, bukan hanya dipelihara dan dijaga secara komunal, tetapi -- dan ini yang lebih utama -- dijaga pula dalam diri pribadi. Sebuah kekuatan dari dalam untuk nilai kolektif yang dijaga bersama secara menerus. Sebuah tradisi.

Menariknya, Supena dan Galung bukan hanya hadir sebagai penjaga tradisi. Mereka juga adalah manusia modern yang meyakini hak-hak individu dan pilihannya; mensyukuri peradaban modern; dan hihup pula dalam tatanan masyakat modern. Kelihatannya, yang tradisi dan yang modern ini seperti dua hal yang terpisah, Tetapi, Supena dan Galung justru melakoni keduanya dalam garis waktu yang sama. Waktu dalam kehidupan sehari-harinya diperuntukkan bagi dunia tradisi; pada saat yang sama pula diperuntukkan bagi dunia modern. Pilihan profesinya sebagai seniman modern melalui pendidikan formal seni rupa -- Supena dan Galung lulusan Program Studi Seni Rupa dan Desain, Universitas Udayana Bali, tahun 1997.

Soal-soal inilah yang menjadi stimulus karya mereka. Proses kreatif Supena ada dalam bingkai adati, nilai kolektif, dan ideologi komunal masyarakat Bali. Pilihan subject-matter karyanya memerlihatkan hal itu. Pilihan bahasa estetik dan cara pengucapannya memerlihatkan kecenderungan pemakaian bahasa rupa tradisi Bali sekaligus juga bahasa rupa modern. Lain halnya dengan Galung, proses kreatifnya justru lebih dipicu oleh realitas kini di Bali yang memerlihatkan kontradiksi antara si kaya dan jelata. Namun demikian, mereka berdua memiliki kedekatan: bahasa estetis dan cara ungkapnya kedua seniman ini memerlihatkan kecenderungan narasi. Narasi tentang virilitas.

Sebagaimana laiknya karya yang naratif, tentu saja ada persoalan yang ingin dikemukakan oleh Supena dan Galung. Persoalan itu adalah perkara pilihan hidup yang dikonstruk oleh lingkungan terdekatnya. Nilai adati dan lingkungan sosialnya adalah hal-hal yang mendasari karya mereka. Dari hal yang mendasari inilah persoalan bergeser menjadi pokok karya atau subject-matter yang diungkapkannya melalui pilihan bahasa. Sebuah idiolek yang tumbuh dari dialek rupa tradisi dan dialek rupa modern.

Guna memudahkan pembingkaian, secara garis besar, persoalan itu adalah perkara kelelakian, kejantanan atau virilitas. Supena dan Galung adalah lelaki yang hidup dalam kultur patriarki. Disadari atau tidak, bagi mereka berdua kultur patriarki adalah hal yang tak mudah untuk dielakkan. Kultur itu telah dikonstruk secara halus dan tersembunyi sejak mereka masih dalam kandungan ibunya melalui serangkaian nilai adati. Nilai yang dikemas dalam beragam tata hidup dalam bingkai upacara-upacara. Terlepas ada perkara menguntungkan atau merugikan bagi mereka berdua, kultur patriarki adalah kultur yang telah menjadi bagian dari pilihan hidupnya.

Virilitas dan Dongeng Suci
Virilitas atau kelelakian/kejantanan, dalam pengertian Pierre Bourdieu, adalah sebuah ke-hal-an (quidditas ) yang ada pada vir, virtus, titik kehormatan (nif), sebagai prinsif konservasi dan peningkatan kehormatan. Pada aspek etikanya, virilitas itu tetap tidak dapat dipisahkan dari virilitas fisik, setidaknya secara diam-diam, terutama lewat pengakuan-pengakuan keperkasaan seksual--perenggutan keperawanan perempuan, jumlah anak laki-laki, dan lain-lain--yang diinginkan oleh laki-laki yang betul-betul laki-laki.

Virilitas, dalam sejumlah budaya, segera terhubung dengan phallus yang dimaknai sebagai pusat dari semua fantasi kolektif kekuatan penyuburan. Realitas ini lebih dekat dengan karakter mitos yang, bagaimanapun, menyimpan suatu ambiguitas struktural  pada sejumlah simbol yang terkait dengan kesuburan. Begitulah definisi sosial yang adalah produk dari sebuah konstruksi. Konstruksi budaya laki-laki yang pada wilayah tertentu dirancang guna keuntungan kaum laki-laki.

Kelelakian atau kejantanan dalam kultur tradisional Bali dibangun lewat narasi dongeng suci yang memosisikan laki-laki sebagai pusat segala energi. Itu sebabnya garis keturunan ayah misalnya, bukan sekedar tumbuh dalam wilayah adati yang bersifat horizontal, tetapi lebih diyakini sebagai kebenaran vertikal. Dalam banyak kebudayaan kita, garis keturunan ayah terefleksikan melalui bahasa, nama keluarga, waris, bahkan asal-asul genealogis. Realitas kultural ini, meski hanya sebuah konstruksi, pada praktiknya telah melahirkan dan melanggengkan dominasi maskulin. Lihat misalnya bagaimana epos Ramayana, Mahabharata, tantri, legenda, dan serupanya di Bali secara menerus diproduksi dengan tetap memerlihatkan keberpihakannya pada kerajaan laki-laki. Sekadar contoh, Dewi Sinta yang menceburkan diri ke lautan api untuk membuktikan keperawanannya adalah ritual dengan pertaruhan nyawa demi kuasa laki-laki.

Sejumlah patung karya Supena menunjukkan ihwal konstruksi sosial budaya itu. Suatu hari, beberapa tahun yang lalu Supena, sebagaimana umumnya lelaki Bali, menginginkan turunan anak laki-laki. Sebelumnya ia memiliki dua anak perempuan. Supena yang dikonstruk oleh budaya patrarki Bali itu bagaimanapun menerima semacam keharusan untuk memiliki turunan, anak laki-laki. Sebuah garis geneologi yang menjadi kemestian di Bali. Keharusan yang datang dari keyakinan adati itu pada akhirnya menjadi obsesif. Supena kemudian secara menerus melakukan semacam doa panjang melalui pengubahan yang secara menerus pula ihwal anak laki-laki. Doa panjang ini makin khusyuk manakala di lingkungannya (Bali) tersebar kabar bahwa banyak anak laki-laki usia Sekolah Dasar melakukan bunuh diri karena sebab yang sepele. Bagi Supena, praktik pelenyapan nyawa itu adalah kekeliruan yang amat besar. Karenanya, Supena makin khusuk melantunkan doa panjang lewat gubah karya tiga dimensi. Sampailah, suatu hari ia dikaruniai anak laki-laki. Dan, doa itu tetap berlanjut. Hadir sebagai ucapan syukur.  

Virilitas dan Mitos Modern
Dalam kebudayaan kontemporer, apresiasi terhadap virilitas diwujudkan dalam bentuk pemujaan terhadap tubuh jantan oleh kaum laki-laki (juga oleh perempuan). Lihat misalnya bagaimana budaya pemeliharaan tubuh itu hadir melalui pintu wacana tentang tubuh yang sehat. Pemaknaan tubuh yang sehat itu, praktiknya seringkali dikaitkan dengan kemudaan dan keindahan tubuh. Tak mengherankan, jika kemudian di kota-kota tumbuh ‘rumah-rumah tubuh’ semacam pusat kebugaran, pusat olah raga, arena petualangan, fashion untuk laki-laki, parfume untuk laki-laki, bahkan salon khusus untuk laki-laki. Intinya, tubuh laki-laki adalah aset.

Di Bali misalnya, arena petualangan yang akomodatif terhadap kelelakian tumbuh menjamur. Di hutan-hutan kecil dibangun arena petualangan untuk berkendaraan, berkuda, dan serupanya; di sungai-sungai dibangun arena arung; di banyak pantai ditumbuhkan arena petualangan surfing, selancar, dan serupanya. Para pelakunya bukan hanya para wisatawan dari dalam dan luar negeri, tetapi juga banyak lelaki Bali yang memanfaatkan fasilitas ini untuk memanjakan tubuh kelelakiannya.

Galung membidik realitas terkini yang tumbuh menjamur di Bali. Dalam lukisannya, bisa ditemukan pokok bahasan tentang lelaki yang menaklukkan gelombang, lelaki yang menaklukkan belantara, dan serupanya. Tubuh dalam lukisan ini adalah tubuh yang dikonstruk oleh budaya modern, yang menempatkan olah raga sebagai bagian dari gaya hidup. Tubuh lelaki yang atletis, proporsional, kuat, dan indah adalah tubuh yang dikonstruksi oleh mitos modern hari ini. Persoalan konstruksi ini yang coba dibangun oleh Galung.

Tetapi, Galung tak hanya menghadirkan tubuh dalam balutan gaya hidup masa kini, ia juga menghadirkan tubuh yang tercampakkan. Tubuh yang sepenuhnya menjadi tumpuan hidup. Itulah pekerja kelas bawah yang memungut limbah sebagai satu-satunya kemungkinan pemberdayaan tubuh untuk kehidupan. Ini juga adalah realitas yang dewasa ini tumbuh di Bali. Realitas yang, terutama, dilakoni oleh kaum lelaki.

Pameran ini diniatkan guna menghadirkan dua makna virilitas dari dua pelukis Bali. Virilitas pertama ada dalam wilayah dongeng suci dan adati, seperti yang tampak dalam karya rupa Supena; viritas kedua ada dalam mitos modern, seperti yang tampak dalam karya Galung.
 

 

CATATAN:

  1. Samuel B. Mallin. Merleau-Ponty’s Philosophy, New Haven: Yale University Press, 1979, h.184.  Seperti yang dikutip Irawan. Animal Ambiguitas. Yogyakarta: Jalasutra, 2008, h. 106.
  2.  Pierre Bourdieu, 2010, Dominasi Maskulin (terjemahan Stephanus Aswar Herwinarko), Yogyakarta: Jalasutra.
  3. Lihat misalnya struktur lingga-yoni yang menempatkan lingga sebagai pusat. Peninggal kebudayaan lama ini, hingga hari ini masih dipelihara dalam bentuk dongeng suci, keadatan, dan keagamaan di Bali dan beberapa daerah lain di Nusantara.