INTRODUCTION TO CURATORIAL
Pada tahun 1980an, filosof Indonesia, Y.B. Mangunwijaya melontarkan pemikiran tentang relogiositas melalui bukunya, Sastra dan Religiositas. Dalam buku yang mengkaji perkembangan sastra di Indonesia ini, dari awal Abad ke-20 sampai dekade 1980—dari Hamka dan A.A. Navis sampai Iwan Simatupang, Putu Wijaya dan Danarto—Mangunwjaya melihat kuatnya hubungan ungkapan pada karya-karya sastra Indonesia dengan religiositas.
Pendapat Mangunwijaya itu bisa diluaskan ke dunia seni rupa Indonesia. Pameran Flight for Light – Indonesian Art and Religiosity ini dimaksudkan untuk menunjukkan kuatnya hubungan ungkapan pada karya-karya seni rupa Indonesia dengan religiositas, dari awal Abad ke-20 sampai era seni rupa kontemporer sekarang ini. Melalui pameran ini bisa dilihat bahwa pemikiran Mangunwijaya menyentuh persoalan mendasar pada perkembangan global sekarang ini yang tercermin juga pada budaya dan kesenian.
Ketika pada awal Abad ke-20 pemikiran tentang modernisasi dunia berdasarkan universalisme, sangat percaya akan terujudnya modernitas yang homogen di seluruh dunia, Walter Benjamin sudah melihat kelemahan keyakinan ini. Walter Benjamin mengetengahkan pemikiran yang ia sebut, “homogeneous empty time of modernity”. Pada pemikiran ini ia melihat faktor waktu pada proses homogenisasi dunia tidak bisa ditentukan. Bahkan tidak bisa dibayangkan. Walter Benjamin berpendapat modernitas homogen adalah sebuah utopia yang teoretis bisa terjadi bila semua aspek berbeda di seluruh penjuru dunia sudah selesai menjalani proses transgresif pada modernisasi.
Sekarang ini, proses yang tidak bisa dibayangkan Walter Benjamin sudah bisa disimpulkan sebagai kemustahilan. Di dunia pemikiran, sendi-sendi keyakinan tentang homogenitas dunia, sudah digoyahkan pemikiran post modern. Dalam kenyataan terlihat pada patahnya pemahaman globalisasi yang masih saja dibayangi keyakinan tentang akan terjadinya homogenisasi. Perubahan besar di China, berakhirnya Perang Dingin, membesarnya peran Asia dalam perekonomian dunia, membuat globalisasi harus dilihat sebagai globalizations.
Pada globalisasi yang plural itu, globalisasi Islam yang terjadi pada dua dekade terakhir akibat meruyaknya ketegangan Timur-Tengah yang tidak selesai-selesai sampai sekarang, memunculkan clash of globalizations. Di sini masalah religiositas adalah sebuah celah yang menyodorkan pemikiran positif. Namun kemungkinan ini overlooked karena kesenjangan di forum global yang tidak pernah sesungguhnya dipersoalkan.
Tahun 2011 ini fisikawan, kosmolog terkemuka Stephen Hawkings memunculkan “kehebohan kecil” karena mengukuhkan kembali kematian agama yang sebenarnya sudah sejak lama diyakini di dunia Barat dan percaturan global. Sementara itu di Indonesia kedudukan agama masih sentral.
Terlihat nyata di dunia Islam karena mayoritas penduduk di Indonesia beragama Islam. Itensitas yang sama bisa ditemukan di lingkungan agama Kristiani. Candi Borobudur yang dibangun pada Abad ke-5 bukan cuma bangunan yang menunjukkan ancient history. Sampai sekarang Candi Borobudur masih digunakan untuk upacara Waisak umat Budha. Kebudayaan Bali yang dikenal di dunia karena keunikaannya tidak bisa dipisahkan dari agama Hindu-Bali. Upacara-upacara yang menjadi popluer di kalangan turis adalah upacara agama yang sebenarnya. Gejala pada masyarakat Indonesia ini yang sangat mungkin bisa ditemukan juga pada banyak masyarakat lain di dunia, tidak bisa diabaikan di forum global.
Namun religiositas tidak secara langsung berhubungan dengan agama. Untuk memperlihatkan jarak di antara religiositas dan agama, Mangunwijaya mengutip kata-kata sastrawan terkemuka dunia, Graham Greene—dikemukakan ketika Perang Dingin belum berakhir—yang mengontraskan kepercayaan religius dengan agama, “There is far more religious faith in [communist] Russia than in [Christian] England.”
Dalam bukunya Mangunwijaya mengemukakan, agama lebih menunjuk kelembagaan, lembaga dalam berbakti kepada Tuhan dalam aspeknya yang resmi, yuridis, menyangkut aturan-aturan, dan, hukum-hukum organisasi. Agama melingkupi juga segi-segi kemasyarakatan (gesellschaft). Sementara itu religiositas adalah sesuatu kualitas pada dorongan beragama. Berada di lubuk hati dan sering disebut hati nurani. Riak getarannya tidak jelas, personal, dan seringkali misterius bagi orang lain. Ketika dikaitkan dengan masyarakat religiositas tercermin pada keintiman dalam ikatan masyarakat (gemeinschaft).
Religiositas tidak cuma mencerminkan kedamaian. Sejarah agama menunjukkan religiositas muncul juga akibat konflik. Seluk beluk religiositas seperti ini dikemukakan William James (1842-1910) pada awal Abad ke-19 melalui buku The Vareities of Religious Experience. Agama dalam pandangan William James mempunyai dua bentuk: agama sebagai institusi dan agama personal. Semua agama berawal pada agama pesonal. Namun setelah berkembang menjadi agama sebagai institusi, agama tidak pernah bisa melepaskan diri dari ambisi kelembagaan, politik kekuasaan dogmatik, fanatisme, dan konspirasi dengan kekuasaan sekular. Ketika perkembangan agama sebagai institusi mencapai titik ekstrim agama personal akan muncul kembali.
Buku The Vareities of Religious Experience William James mengkaji secara khusus keyakinan agama personal pada sejumlah “pencari kekudusan” yang jumlahnya meningkat di Eropa pada awal Abad ke-19, khususnya di kalangan masyarakat bawah. Pangkalnya, ditemukan William James, adalah politik dogmatik yang menyatu dengan kekuasaan sekuler dan menekan kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat bawah.
Di tengah kesulitan menghadapi kemiskinan, masyarakat mencemaskan kematian karena ketakutan pada hukuman di neraka, penderitaan dalam menjalani kekudusan, dan, perasaaan dihantui rasa berdosa ketika mersakan kesenangan duniawi yang sebenarnya susah didapatkan di kalangan miskin. Di Eropa kondisi semacam ini berlangsung sudah berabad-abad sejak Abad Tengah. Terkurung kondisi depresif ini, melankolia meluas dan memunculkan gejala pencari kekudusan. Mereka melarikan diri dari dogma-dogma agama yang mengikat dan mengikuti cahaya yang tidak jelas— flight for light. Mereka mencari sendiri hubungan mistis dengan Tuhan untuk menemukan kedamaian.
Tanda-tanda muram Abad ke-19 itu membawa titik balik pada perkembangan dunia Barat. Pada Abad ke-19 pula muncul atheisme, yang mencerminkan kemarahan pada politik dogmatik yang menekan masyarakat bawah di Eropa, selama 9 abad. Bersamaan dengan paham ini ilmu pengetahuan berkembang sebagai kendaraan manusia menentukan nasib sendiri dan menyangkal takdir. Muncul sekularisasi di mana semua pemahaman tentang realitas dan kehidupan memutuskan dimensi trasendensinya.
Tidak terkecuali pemikiran tentang seni rupa. Sejak awal Abad ke-20, sudah tidak ada lagi ruang pada art discourses untuk mempersoalkan religiositas. Masalah yang ditimbulkannya, art discourses ini mendasari perekembangan seni rupa global, bahkan sampai sekarang.
Pameran ini ingin menunjukkan bahwa pemahaman realitas pada perkembangan seni rupa Indonesia, sejak awal Abad ke 20 sampai sekarang—dari Affandi, Soedjojono dan Ahmad Sadali sampai Heri Dono, Tisna Sanjaya, dan, Entang Wiharso—t idak [pernah] menghilangkan dimensi transedensinya. Ungkapan para perupa ini tidak bisa diabaikan karena bisa dilihat membawa persoalan aktual. Religiositas pada karya-karya perupa Indonesia ini merupakan celah pada kebuntuan clash of globalizations yang menyodorkan pemikiran positif,
Islam dalam clash of globalizations itu adalah agama sebagai institusi. Tidak ada pemikiran global yang menyiasati kenyataan ini. Anti-religious bias pada pemikiran global dan art discourses menutup kemungkinan munculnya kesadaran bahwa pada perkembangan dunia Islam ada juga agama personal.
Religiositas pada ungkapan seniman-seniman muslim Indonesia pada pameran ini, bersama religiositas pada ungkapan yang muncul berdasarkan agama-agama lain, menunjukkan watak pencari kekudusan. Pesan mendasar pada ungkapan-ungkapan ini adalah kembali ke kebaikan—sikap toleran, moralitas yang jauh dari permusuhan, sikap kritis pada kekerasaan—di tengah meruyaknya ketegangan sekular karena identitas agama.
Karena itu art discourses tidak bisa mengabaikan religiositas pada ungkapan perupa-perupa Indonesia, dan sangat mungkin banyak perupa lain di berbagai penjuru dunia. Tidak bisa lain, art discourses di forum seni rupa global memerlukan berbagai re-negosiasi untuk menemukan dasar-dasar pembacaan dan penilaiannya
Jim Supangkat / Kurator





Add new comment