BRAVACASA ARTIKEL
Berkomitmen mendukung apresiasi seni rupa di Indonesia, Galeri Mon Decor mendirikan Art:1 yang resmi dibuka akhir Oktober lalu. Di atas area 2000 m², pada bangunan dengan luas kurang lebih 4000 m² tersebut diwujudkan sejumlah aktivitas seni rupa yang terbagi pada empat bagian sarana; Art:1 New Museum, Art Space:1, Art:1 Institute yang bertugas mendukung dan mengawasi seluruh program Art:1 baik ke luar maupun ke dalam, dan Mon Decor Gallery sebagai gambaran utama dari Art:1.
Dari brainstorming dan pertimbangan lokasi, program dan fungsi, serta gagasan-gagasan, akhirnya Art:1 terbagi atas empat lantai dengan Sardjono Sani sebagai arsiteknya. Dropping off area terletak di lantai bawah lengkap dengan area parkir, gudang dan workshop di bagian belakang, serta Mon Decor Gallery pada bagian depan. Sebagai tanda sejarah dan cikal-bakal berdirinya Art:1, Mon Decor Gallery ditempatkan sebagai point of interest pada fasad bangunan.
Didirikan sejak 1983, Mon Decor Gallery sekarang tidak lagi sekedar memajang lukisan, prints untuk hiasan interior rumah tinggal, maupun frame lukisan-lukisan ke dalam susunan pameran. Galeri ini kini juga dikembangkan menjadi museum’s shop yang akan menampilkan cinderamata dengan kategori exclusive museum items, dan sejumlah obyek artistik eksklusif buatan tangan para desainer dan craftsman.
Area pameran mendominasi lantai kedua bangunan ini. Ruang pameran permanen dirancang berkesan netral dan konvensional. Bentuk ruang yang direct sekaligus predictable dengan warna monochromatic dan skylight di bagian tengahnya menjadikan ruang ini mampu menggaris bawahi serta mengangkat setiap karya yang dipamerkan di dalamnya.
Berbeda dengan ruang pamer permanen, ruang pamer temporer dibentuk elips. Dinding display dibuat panjang melengkung menyelimuti ruangan untuk menampung karya-karya baru yang cenderung berukuran besar dan ekspresif. Dengan demikian, ruangan tersebut seolah-olah mempunyai dua bidang saja. Tekstur corrugated metal menjadikan ruang pamer sementara tersebut berkesan muda, kekinian, dan mengikuti zaman yang berusaha dimunculkan pada citra
ruangan tersebut. Pola sirkulasi yang keluar masuk atau naik turun sesuai bidang pamernya sampai ke lantai paling atas di outdoor area, menambah kedinamisan proses menikmati setiap karya yang dipamerkan di ruang tersebut. Outdoor area diperuntukkan untuk segala jenis outdoor art ataupun karya-karya seni instalasi yang sengaja diperlihatkan ke luar untuk mengekspos aktivitas kesenimanan agar dapat mengundang perhatian publik. Di lantai dua ini, terbentuk satu ‘jiwa’ dari konsep perancangan bangunan ini yang ingin disampaikan ke pengunjung. ‘Ruang antara’ menjadi ‘jembatan’ ruang pamer permanen dan temporer dengan asumsi mampu menjembatani setiap ide maupun pikiran yang timbul dari para pelaku dan penikmat seni agar dapat terjadi dalam suatu interaksi yang alami.
Selain itu, di lantai kedua ini terdapat pula ruang ‘sisa’ yang sengaja dibuat dari sisa residu dua massa bangunan yang mengelilinginya. Ruang tersebut dijadikan sebagai ruang penerima dan juga ruang kantor pemilik atau pengelola di bagian belakangnya. Ruang kantor tersebut ditempatkan di bagian belakang disimbolkan sebagai ‘wasit’ yang mengikuti kegitan para seniman di ruang terbuka lantai dua tadi. Ruang ini dirancang sefleksibel mungkin dan ‘hidup’ mengikuti siapa yang berdiskusi dan apa yang didiskusikan dengan furniture pendukungnya yang bersifat non permanen.
Kombinasi warna putih dan abu-abu yang mendominasi bangunan ini ditujukan untuk dapat menampung karya seni yang akan dipamerkan ketimbang harus bersaing dengannya dalam waktu yang bersamaan. Seperti seni dan desain arsitektur yang sebenarnya tidak hanya dapat dilihat ataupun didengar, namun dapat dimasuki, dihuni, dan jiwa-jiwa yang terkandung di setiap sudutnya dapat dijelajahi dan dirasakan. Dengan demikian, baik pengelola, pemilik, dan juga perancang berharap agar apapun karya seni yang ditampilkan di Art:1 ini terlihat stand out dan pesan di dalamnya dapat tersampaikan ke masyarakat tanpa harus dimonopoli oleh segelintir pihak saja.
Here Are Our Articles
The Article 1
The Article 2
The Article 3
___________________________________________________________________________________





Add new comment