ARTIST C.V

  • Nama
  • Tanggal Lahir
  • Pendidikan
  • : Srihadi Soedarsono
  • :
    Solo, 4 Desember 1931
  • :
    Hollands Indische School (HIS), Tsu-gakko, Sekolah Menengah Tinggi (SMT) Negeri Manahan-Solo, Universitas Indonesia di Bandung

Biografi Kronologis Srihadi Soedarsono

1931

  • 4 Desember Srihadi Soedarsono lahir di Solo, Jawa Tengah

1936-42

  • Srihadi menamatkan pendidikan dasar di Hollands Indische School (HIS).

1943-45

  • Srihadi kemudian melanjutkan pendidikannya ke Tsu-gakko­, sekolah menengah pada masa pendudukan Jepang.

1945-48

  • Srihadi menamatkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Negeri, Solo.

1945

  • Srihadi sebagai pelajar bergabung menjadi  anggota Ikatan Pelajar Indonesia (IPI), bagian Pertahanan di Solo. Setelah itu, Srihadi kemudian masuk sebagai staf Penerangan Badan Keamanan Rakyat (BKR), Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Penerangan Tentara Divisi IV TNI, dan berikutnya dalam masa gerilya pada Perang Kemerdekaan II bergabung dalam Tentara Pelajar (TP), Detasemen II Brigade 17 di Solo.
  • Srihadi bersama pasukan Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) lainnya terlibat dalam penyerangan barak tentara Jepang yang terletak di bekas pabrik gula Colomadu untuk mendapatkan senjata.

1946

  • Srihadi yang berusia 15 tahun memutuskan untuk ikut ambil bagian dalam BKR, TKR, TNI  hingga tahun 1948 dengan pangkat Sersan Mayor. Srihadi bertugas di bagian penerangan mendokumentasikan peristiwa-peristiwa bersejarah dengan sketsa pnsil hitam, cat air ataupun media lukis lainnya. Selain itu, Srihadi juga membuat poster-poster perang dan perjuangan bersama dengan para seniman lainnya demi kepentingan perjuangan menegakkan kedaulatan Indonesia yang belum selesai karena Belanda berhasil menduduki Jakarta dan menyebabkan pemindahan ibukota ke Yogyakarta.
  • Pada saat bergerilya melawan Belanda selama pendudukan tentara NICA di Surakarta, Srihadi pernah ditangkap dan dipenjarakan oleh militer Belanda MP/IVG. Srihadi tertangkap pada saat membawa bahan peledak dan dipenjarakan di Semarang. Setelah terjadi penyerahan kedaulatan Indonesia oleh Belanda pada Konferensi Meja Bundar (KMB) tahun 1950, Srihadi dibebaskan dari penjara Semarang.

  • Srihadi bergabung dengan kelompok Seniman Indonesia Muda (SIM) sampai tahun 1948 dan belajar di bawah bimbingan nama-nama besar seniman Indonesia, seperti S. Soedjojono dan Affandi.

November 1946

  • Srihadi bergabung dengan delegasi Indonesia dalam Perundingan Kaliurang (Renville) untuk mengabadikan peristiwa bersejarah. Karya-karya Srihadi yang dihasilkan pada periode ini, antara lain “Latihan Gamelan Ketoprak Sumbangsih”, “Reruntuhan Pesawat Dakota VT-CLA”, “Kongres Taman Siswa Yogya, dan  Potret Bung Karno”, dll.

 

1948

  • Setelah menamatkan pendidikannya di Sekolah Menengah Pertama Negeri, Srihadi kemudian melanjutkan ke Sekolah Menengah Tinggi (SMT) Negeri Manahan-Solo, angkatan 1948. Namun sekolah ini kemudian dibumihanguskan pada waktu perang kemerdekaan.Setelah menamatkan pendidikannya di Sekolah Menengah Pertama Negeri, Srihadi kemudian melanjutkan ke Sekolah Menengah Tinggi (SMT) Negeri Manahan-Solo, angkatan 1948. Namun sekolah ini kemudian dibumihanguskan pada waktu perang kemerdekaan.
  • Setelah tidak aktif lagi di Seniman Indonesia Muda (SIM), Srihadi menjadi anggota sekretariat Menteri Negara Urusan Pemuda RI (SMNUP), Bagian Kesenian, yang dipimpin oleh S.Soedjojono dan berkantor di gedung Sekolah Taman Siswa, Yogyakarta.

1950

  • Srihadi ikut serta dalam sebuah pameran yang diprakarsai oleh Seniman Indonesia Muda (SIM) yang berjudul Pameran “Expositie Seni Lukis” seniman Surakarta di Solo. Pada tahun yang sama, namanya tercantum dalam daftar seniman yang turut menggerakkan seni lukis Indonesia dalam artikel yang berjudul “Dasar pikiran Tentang Akademi Kesenian” yang ditulis oleh Trisno Soemardjo. Pengalaman tersebut membuat Srihadi yang ketika itu masih menjadi siswa SMAN Margoyudan-Solo, bertekad untuk melanjutkan pendidikan tingginya ke sekolah gambar atau sekolah seni rupa.
  • Selain dalam SIM, Srihadi juga memutuskan untuk bergabung sebagai anggota Himpunan Budaya  Surakarta (HBS), Solo. Sejak tahun 1950 hingga sekarang, Srihadi juga tergabung dalam beberapa asosiasi, seperti anggota Kerukunan Keluarga Besar Eks-Tentara Pelajar/TNI Detasemen II Brigade 17, anggota Persatuan Keluarga Besar Pelajar Pejuang Kemerdekaan (PKB-PPK), anggota Paguyuban Eks-Pelajar Sekolah Menengah TInggi  Manahan-Solo.

1952

  • Srihadi menamatkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas Negeri Margoyudan-Solo.
  • Srihadi memutuskan untuk melanjutkan pendidikan tingginya ke Balai Pendidikan Universiter untuk Guru Seni Rupa  Fakultas Teknik , Universitas Indonesia di Bandung. Dalam sebuah wawancara, Srihadi menuturkan alasannya memilih Bandung dibanding Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta adalah untuk mencari pengalaman dalam bidang seni rupa yang berbeda.

November 1954

  • Srihadi bersama dengan perupa Bandung lainnya, seperti Popo Iskandar, Achmad Sadali, Hetty Udit, Karnedy, But Muchtar, Sie Hauw Tjong, Soebhakto, Soedjoko, Edie Kartasoebarna, dan Kartono Yudhokusumo, mengikuti “Pameran Lukisan Mahasiswa IPPI” (Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia) yang diadakan di Balai Budaya Jakarta.. Pameran ini menampilkan karya-karya lukisan dengan pola-pola geometris, bidang warna, dan bentuk-bentuk datar non-representatif.

1955

  • Srihadi dan para seniman Bandung bersama dengan seniman Indonesia lainnya mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi dalam perhelatan internasional Konferensi Asia Afrika (KAA) yang diadakan di Bandung, yaitu “Exhibition of Classical and Modern Indonesian Art” (Eksposisi Seni Rupa Indonesia Klasik dan Modern).  Pemerintah memanfaatkan konferensi internasional ini untuk memamerkan segala bentuk seni budaya Indonesia kepada para pesertanya, salah satunya melalui pameran seni rupa. Sebagai Juri dalam pameran ini antara lain para pelukis senior dari Jakarta, yaitu Kusnadi, Soedjojono, Hendra Gunawan, Henk Ngantung, Basuki Resobowo dan Affandi.

September 1956

  • Konsep dan keahlian teknik para pelukis akademi Bandung didemonstrasikan dalam sebuah proyek mural di aula Universitas Indonesia di Jakarta. Srihadi menjadi salah satu pelukis bersama dengan But Muchtar, Popo Iskandar, dan Soebhakto. Srihadi melukis mural yang menggambarkan “Agrikultur”, “Kedokteran”, “Arsitektur”, dan ”Industri”.

1957

  • Srihadi bersama dengan But Muchtar, dan beberapa seniman lainnya, memimpin Sekolah Seni Modern Sanggar Seniman di Bandung, melanjutkan usaha almarhum pelukis Kartono Yudhokusumo.

1958

  • Baktinya dalam TNI dan Tentara Pelajar pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia membuat Srihadi mendapatkan empat penghargaan yang diberikan oleh pemerintah Indonesia, yaitu Bintang Gerilya RI, Satyalantjana Peristiwa Perang Kemerdekaan I & II, dan Piagam Gerakan Operasi Militer I.
  • Pada tahun ini pula, Srihadi telah aktif menjadi asisten pengajar di kampusnya.

1959

  • Srihadi mendesain logo Institut Teknologi Bandung yang mengambil bentuk Dewa Ganesha sebagai dewa pengetahuan. Pada tahun ini, Srihadi juga menamatkan pendidikan tingginya dan segera diangkat menjadi dosen di almamaternya. Srihadi kemudian mengabdikan diri sebagai dosen sampai tahun 1998.
  • Desember, Srihadi bersama dengan But Muchtar, memamerkan hasil karyanya di Balai Budaya Jakarta selama satu minggu. Sebagian besar dari lukisan yang dipamerkan merupakan hasil dari pengamatan mereka di Bali.
  • Dalam artikel majalah Star yang terbit pada tanggal 12 Desember 1959, tertulis juga bahwa antara tahun 1954-1958, Srihadi aktif berpameran di Bandung, Jakarta, India, London, Tokyo, Kuala Lumpur, Denpasar, dan Balikpapan.

1960

  • Srihadi mendapatkan beasiswa pemerintah Amerika Serikat untuk meneruskan pendidikannya ke jenjang Master di The Ohio State University.

1961

  • The Cornell Daily Sun yang terbit pada tanggal 22 Maret mencatat sebuah pameran yang melibatkan dua orang mahasiswa seni Indonesia yang tengah melanjutkan studi di Amerika Serikat. Srihadi, yang melanjutkan di The Ohio State University, dan But Muchtar, yang bersekolah di Rhode Island School of Design, akan melakukan debut pameran mereka sebagai pelukis garda depan Indonesia di Andrew Dickson White Museum of Art, Cornell University, Amerika Serikat. Pameran ini terselenggara berkat kerjasama Andrew Dickson White Museum of Art dengan Southeast Asia Program, Cornell University, dan akan berlangsung sampai dengan tanggal 16 April 1961.
  • Pameran “Indonesian Paintings” di International Galleries, New York City.

1962

  • Srihadi Soedarsono berhasil menamatkan studinya di The Ohio State University dan mendapat gelar Master of Art. Dalam menyelesaikan program Masternya, Srihadi harus memamerkan karya-karya yang dibuatnya selama menjadi mahasiswa. Pameran ini merupakan pameran tunggal pertamanya yang bertajuk “Srihadi” yang diadakan di The Ohio State University Gallery dan Globe Theater,Columbus, Ohio.
  • Di Jakarta, sebuah galeri seni rupa pertama bernama Prastha Pandawa dibuka di Jl. Falatehan 19, Kebayoran Baru. Sebagai peresmiannya pada bulan Mei, galeri ini menyelenggarakan sebuah pameran pelukis-pelukis Indonesia. Karya-karya yang dipamerkan sebanyak 20 karya, diantaranya adalah karya Srihadi Soedarsono yang berjudul “Topeng”, karya potret “Ny. Soedarpo Sastrosatomo”  yang dilukis oleh Affandi, karya berjudul “Kuan Yin” oleh Lee Man Fong, dan beberapa lukisan lainnya.

1963

  • Srihadi berpartisipasi dalam pameran menyambut GANEFO, Konferensi Wartawan Asia-Afrika, peristiwa kembalinya Irian Barat ke Republik Indonesia, dan pameran memperingati Pendidikan Nasional koleksi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

1964

  • Srihadi menikah dengan Farida yang ketika itu masih berkuliah tingkat dua di Seni Rupa ITB dan baru saja kembali dari Amerika Serikat mengikuti program AFS sama seperti Srihadi yang juga baru pulang menyelesaikan studi masternya di The Ohio State University. Farida adalah mahasiswa Srihadi dan sering berkonsultasi dengannya mengenai kuliah dan karya. Farida dan Srihadi kemudian dikaruniai tiga orang anak.
  • Pada tahun ini, Srihadi menjadi desainer senior dalam Staf Elemen Estetik gedung MPR-RI, Jakarta hingga proyek tersebut selesai tahun 1966. Sebuah relief kayu karyanya terpasang di Ruang Sidang Nusantara.

1966

  • Setahun setelah runtuhnya PKI dan LEKRA yang berhaluan realisme sosial, untuk pertama kalinya sekelompok seniman Bandung kembali berpameran di Jakarta pada tahun 1966, dengan judul pameran “11 Seniman Bandung”. Karya-karya yang dipamerkan tampak sudah melampaui gaya abstrak geometris dengan pengkaryaan yang lebih beragam. Pameran ‘kebebasan’ ini memperoleh respon yang baik dari masyarakat seni rupa Indonesia, dan dianggap sebagai gerakan pembaharuan yang penting oleh seni rupa Bandung.

1967

  • Dalam usaha untuk mempererat ikatan kerjasama dengan Indonesia, terutama dalam bidang kebudayaan, Goethe Institut Jakarta yang terletak di Jl. Matraman Raya 23, Jakarta, menampilkan sebuah pameran yang bertajuk “Eksposisi Karya Tiga Seniman:  “Painting and Sculpture” Rita Widagdo Wizemann, Srihadi, Sadali”. Pameran ini diadakan Mei 1967 dan diadakan lagi untuk kedua kalinya pada September 1968.

1968

  • Srihadi bersama dengan seniman-seniman modern Indonesia seperti Agus Djaja, Affandi, Kusnadi, Otto Djaja, Oesman Effendi, Sunarto, Trisno Soemardjo, Widayat, dan Zaini mengadakan sebuah pameran bersama yang diadakan di Gedung April 1968. Gedung Pola yang terletak di Jl. Pegangsaan Timur nomor 56, Jakarta, merupakan tempat diproklamasikannya kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.

1969

  • Srihadi menjadi anggota juri dalam penghargaan Anugerah Seni RI 1969.

1970

  • Srihadi mengadakan pameran tunggalnya yang kedua dengan judul “Srihadi” di Goethe Institut, Jakarta.
  • Pada tahun ini Srihadi juga mengikuti beberapa pameran di dalam dan luar negeri. Pameran antara lain adalah “The 1970 Indonesia Art Biennial” yang diadakan di Taman Ismail Marzuki dan pameran “Indonesian Painting Exhibition” di The Church Center, New York, Amerika Serikat.
  • Srihadi bersama dengan beberapa dosen ITB lainnya mengikuti pameran Expo ’70 yang diadakan di Jepang. Selain berpameran, Srihadi juga menjadi desainer senior dalam Staf Elemen Estetik Paviliun Indonesia Expo ’70. Pameran Expo ’70 adalah expo berskala dunia yang diadakan di Suita, Osaka. Tema yang diangkat oleh expo ini adalah “Progress and Harmony of Mankind”. Expo ini diikuti oleh 77 negara dan selama enam bulan penyelenggaraannya menyedot 64,210,000 pengunjung. Sampai sekarang expo ini merupakan salah satu expo tersukses yang pernah diselenggarakan di dunia. Karya Srihadi dalam pavilion Indonesia ini adalah “Space Sculpture” untuk ruang pertunjukkan.
  • Srihadi diangkat menjadi Ketua Departemen Seni Rupa ITB dan menjabat selama tiga tahun.
  • Pada tahun yang sama, Srihadi juga menjabat sebagai dosen di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) yang baru didirikan di Jakarta, sekarang bernama Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Srihadi menjadi dosen penguji ahli FSR-IKJ.

1971

  • Taman Ismail Marzuki menjadi tempat dari diadakannya “Pameran Seni Lukis Indonesia Kontemporer” yang berlangsung Mei 1971. Pameran ini mengundang tidak kurang dari 32 pelukis Indonesia yang memasukkan sekitar 81 karya untuk dipamerkan. Pameran ini disponsori oleh Pertamina dan dikuratori oleh lima praktisi seni rupa, yaitu Kusnadi, Dan Soewarjono, But Muchtar, G. Sidharta, dan Alex Papadimitrou. Srihadi ikut ambil bagian dalam pameran ini dengan memasukkan tiga buah karya dari seri karya “Horizon”.
  • Pameran di  Tropen Museum, Amsterdam; “ Indonesian Painting Exhibition”
  • Dengan surat keputusan No. 0157/1971 dan 0158/1971, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mashuri, S.H., memberikan penghargaan Anugrah Seni 1971 kepada enam belas orang seniman dan tiga belas anugrah pendidikan, pengabdian, ilmu pengetahuan dan olahraga. Upacara penyerahan penghargaan tersebut dilaksanakan pada tanggal 26 Agustus di Jakarta. Srihadi menjadi salah satu seniman yang menerima penghargaan tersebut bersama dengan nama-nama lainnya, seperti Ida Bagus Njana, Fadjar Sidik, Suparto, dan lain sebagainya.
  • Di tahun ini Srihadi bergabung dalam anggota Legiun Veteran Republik Indonesia hingga sekarang.

1972

  • Srihadi dipercaya untuk menjadi anggota juri dalam sayembara lambang KORPRI. Selain juri sayembara, Srihadi juga menjadi bagian tim juri Hadiah Seni RI 1972 yang pertama.
  • Srihadi kembali turut serta dalam “Pameran Seni Lukis Indonesia” yang kembali diadakan di Taman Ismail Marzuki. Pameran ini diadakan pada 30 Desember 1972 dan mengundang 51 pelukis. Pada pameran ini Srihadi kembali memasukkan tiga buah karya, yaitu yang berjudul “Mesra”, “Matahari I”, dan “Matahari II”.

1973

  • Dalam rangka kunjungan keliling selama tiga bulan mulai Februari atas undangan pemerintah Australia, Srihadi menyelenggarakan dua pameran tunggal bertajuk “Srihadi” di Theater Centre Gallery, Canberra, dan di Sydney University Art Gallery, Australia.
  • Pada tahun ini, Srihadi diangkat menjadi Ketua Akademi Seni Rupa di LPKJ dan menjabat selama lima tahun ke depan.

1974

  • Srihadi kembali menjadi anggota tim juri yang kedua Hadiah Seni RI 1974 dan juri sayembara pembuatan lambang KNPI.
  • Srihadi terlibat dalam “Pameran Besar Seni Lukis Indonesia” 1974 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Dalam pameran ini, dalam surat kabar Sinar Harapan tertanggal 4 Januari 1975, D.A. Peransi mencatat perubahan karya Srihadi dari bentuk pernyataan yang paling abstrak ke bentuk pernyataan mengenai permasalahan sosial.
  • Selain turut serta dalam “Pameran Besar Seni Lukis Indonesia” di atas, Srihadi juga mengadakan pameran tunggalnya yang bertajuk “Srihadi” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

1975

  • Srihadi melukis mural bertema “Jayakarta” yang berukuran 3 x 12 meter di ruang rapat eksekutif, bangunan utama Balai Kota DKI Jakarta.

1976

  • Di tahun ini Srihadi mengikuti dua buah pameran bersama yang diadakan di Jakarta. Pameran yang pertama bertajuk “Biennale Indonesia II” di Taman Ismail Marzuki dan pameran yang kedua adalah “Pameran Seni Rupa Indonesia” yang diadakan di Balai Seni Rupa, Jakarta.

1977

  • Untuk ketiga kalinya Srihadi menjadi anggota tim juri Hadiah Seni 1977. Selain itu, Srihadi juga menjadi juri “Biennale Seni Lukis Indonesia” yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta.
  • Srihadi bersama dengan Achmad Sadali sebagai dua orang pemenang penghargaan Anugrah Seni berpameran di Balai Seni Rupa, Jakarta, yang sekarang dikenal sebagai Galeri Nasional Indonesia. Pameran ini diketuai oleh Kusnadi yang berpendapat bahwa baik Srihadi maupun Sadali adalah perintis seni lukis abstrak di Indonesia.
  • Pada tahun ini Srihadi juga menerima penghargaan Cultural Grant dari pemerintah Belanda. Selain pameran ini, Srihadi juga terlibat dalam pameran “Pameran Seni Lukis Indonesia” yang diadakan di Purna Budaya, Yogyakarta.

1978

  • Srihadi menjadi juri untuk Hadiah Seni RI untuk keempat kalinya.
  • Srihadi kembali mengadakan pameran tunggalnya April tahun ini yang juga bertajuk “Srihadi” di Erasmus Huis, pusat kebudayaan Belanda di Jakarta. Karya-karya yang sama juga akan dipamerkan pada pameran tunggal berikutnya pada November di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Kedua pameran tunggal ini menampilkan 50 karya Srihadi dengan medium cat air yang dibuatnya ketika mendapat grant dari pemerintah Belanda untuk mengunjungi Eropa. Selain itu, Srihadi juga memamerkan 19 lukisan dengan medium cat minyak yang seluruhnya bertemakan pemandangan alam. Tidak hanya itu, Srihadi memasukkan pula empat karya yang bertemakan wayang. Selain sibuk berpameran tunggal, Srihadi juga kembali mengikuti “Pameran Besar Seni Lukis Indonesia III” di Taman Ismail Marzuki Jakarta sampai Desember 1978.
  • Karya Srihadi yang berjudul “Pemandangan Alam Jakarta” mendapat predikat sebagai salah satu lukisan terbaik kategori utama dalam Pameran Besar Seni Lukis Indonesia III di bulan Desember.

1979

  • Srihadi menjadi bagian dari Program Riset (Research Program) Fulbright-Hays Fellow di The Ohio State University, Amerika Serikat.
  • Pada tahun ini Srihadi tercatat hanya mengikuti satu pameran bersama di Singapore National Museum yang berjudul “The United World College of Southeast Asia’s Eighth International Festival of Art”.

1980

  • Srihadi melanjutkan rangkaian pameran tunggalnya yang bertajuk “Srihadi” ke Rijswijk Museum, The Hague, Belanda. Selain pameran tunggal, Srihadi juga menjadi salah satu dari 36 seniman Indonesia yang berpartisipasi dalam pameran “Contemporary Asian Art” di Fukuoka Art Museum, Jepang, pada bulan November. Pameran ini menampilkan karya seniman dari 13 negara di Asia, termasuk Jepang sendiri. Selain pameran ini, Srihadi juga terlibat dalam dua pameran lainnya, yaitu “Biennale Seni Rupa Indonesia IV” di Taman Ismail Marzuki dan “The 1980 Contemporary Art Exhibition” di Singapore National Museum, Singapura.
  • Selain itu, Srihadi juga dipilih sebagai anggota tim juri dalam pemilihan “Karya Terbaik Seni Lukis Indonesia” yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta.

1981

  • Srihadi kembali mengadakan pameran tunggalnya, “Srihadi”, di Galerie Forum, Geldrop, Belanda.
  • Srihadi menjadi juri “Pameran Besar Seni Lukis Indonesia IV” yang diadakan di Taman Ismail Marzuki bersama dengan Wiyoso dan Suparto. Tim juri kemudian memilih lima karya terbaik dari Haryadi Suadi, T. Sutanto, Dede Eri Supria, Aming Prayitno, dan Nyoman Gunarsa.
  • Bersama dengan sekitar 30 pelukis Indonesia, Srihadi berpameran di Lingkar Mitra Budaya yang terletak di Jl. Tanjung 34, Jakarta di bulan Oktober
  • Srihadi menjadi wakil Indonesia dalam perhelatan “Pameran Seni Rupa ASEAN 1981” bersama dengan seniman-seniman lainnya yang diadakan berkeliling di galeri-galeri nasional di lima Negara, yaitu Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina, dan Indonesia. Di Indonesia, pameran ini diadakan di Taman Ismail Marzuki dan menampilkan karya-karya dari 25 seniman Asia Tenggara. Pameran ini merupakan pameran yang ketiga, setelah yang pertama diadakan pada tahun 1974.
  • Pada bulan Desember Dewan Kesenian Jakarta mengadakan pameran pilihan di Taman Ismail Marzuki dengan mengundang enam seniman yang telah aktif melukis selama lebih dari 25 tahun. Keenam seniman yang dipilih adalah Achmad Sadali, Fadjar Sidik, Oesman Effendi, O.H. Supono, Srihadi Soedarsono, dan S. Soedjojono. Pameran ini menggarisbawahi pencapaian terkini para seniman pada saat itu.

1982

  • Pada tahun ini, Srihadi juga mengikuti pameran dan menjadi anggota delegasi “ASEAN Exhibition of Painting and Photographs” di National Art Gallery, Kuala Lumpur, Malaysia.
  • Bulan November, Srihadi bersama para mahasiswa seni IKJ menemani dua pelukis asal Belanda, yakni  Pat Andrea dan Walter Nobbe, menggarap 5 kanvas masing-masing berukuran 2 meter, total 2 x 10 meter. Lukisan yang dikerjakan bertemakan realisme Barat yang bertemu realisme Indonesia. Agus Dermawan T menganggap karya tersebut tidak membentuk satu karya utuh karena lebih mengangkat sejarah dan menanggalkan getar tangan para seniman yang membuatnya. Kerjasama lintas negara ini kemudian berlanjut dengan proyek lain yang dikerjakan di FSRD ITB Bandung.
  • Pada bulan Desember “Pameran Besar Seni Lukis Indonesia” berganti nama menjadi “Pameran Biennale V” 1982, hadiah ditiadakan. Peserta menciut menjadi hanya 19 orang dengan 150 karya. Srihadi menjadi salah satu di antaranya.
  • Selain itu, Srihadi juga berpameran tunggal di Volkenkundig Museum Nusantara, Delft, Belanda, dengan tajuk “De Indonesische Schilder Srihadi Soedarsono”.
  • Tidak hanya berpameran, Srihadi juga mengerjakan proyek pembuatan elemen estetik pada kapal KM Kerinci dan KM Rinjani sebagai konsultan dan koordinator bagi Departemen Perhubungan Laut RI.

1983

  • Pada tahun ini Srihadi tercatat hanya mengikuti dua pameran bersama, yaitu “Indonesian Art Exhibition” di Purna Budaya, Yogyakarta, dan satu pameran di luar negeri yang bertajuk “Indonesian Painting Exhibition” di Euro Galerie, Zurich, Swiss. Selain itu, karya Srihadi dari seri “Borobudur” dijadikan poster oleh UNESCO dalam rangka mencari dana bagi restorasi Candi Borobudur dan diterbitkan di Paris dalam dua bahasa.
  • Pada Bulan November Bursa lukisan kembali diadakan di Grand Ballroom Hotel Mandarin, Jakarta. Seperti perhelatan yang sudah-sudah, pameran ini menawarkan karya-karya dari sekitar 80 pelukis Indonesia. Karya Srihadi yang berjudul “Krakatau Dan Gerhana Matahari” menjadi salah satu karya yang menarik perhatian banyak kolektor dan peminat seni.
  • Srihadi menjadi juri pada beberapa kegiatan dan perhelatan seni, seperti anggota juri Lomba Lukis dan Poster Anak & Remaja Tingkat Nasional di Bandung dan anggota juri Painting of The Year Competition 1983 yang diadakan oleh United Overseas Bank (UOB) di Singapura.

1984

  • Srihadi berpameran tunggal dengan tajuk “Malarstwo Srihadi Soedarsono z Indonezji” di Asia and Pacific Museum, Warsawa, Polandia.
  • Pada Bulan  November    Dewan Kesenian Jakarta kembali mengadakan perhelatan pameran dua tahunan, “Biennale Seni Lukis Indonesia Ke VI” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, sampai tanggal 6 Desember 1984. Seniman-seniman yang diundang adalah pelukis Indonesia yang berusia di atas 38 tahun dan telah memiliki reputasi dalam bidang seni lukis lebih dari 10 tahun. Srihadi menjadi salah satu dari 27 seniman yang memenuhi kriteria tersebut selain Affandi, S. Soedjojono, Rusli, Nashar, Oesman Effendi, dan lain sebagainya.
  • Srihadi kembali menjadi anggota juri pada penghargaan Hadiah Seni RI 1984 yang ke lima kalinya.

1985

  • Pada tahun ini, pameran tunggal “Srihadi” kembali hadir di Eropa, tepatnya di LB-Bank, Braunschweig, Jerman.
  • Srihadi kembali menjadi anggota juri pada penghargaan Hadiah seni RI 1985 yang ke enam kalinya.
  • Selain tetap menjadi anggota juri pada Hadiah Seni RI 1985, Srihadi juga dipilih sebagai juri untuk Sayembara Elemen Estetik (Relief) Gedung DPRD-DKI Jakarta.
  • Bulan Juli Srihadi didaulat untuk memberikan ceramah di gedung Akademi Seni Karawitan Surakarta, Sasonomulyo, dalam acara “Sarasehan Senirupa 85”, bersama S. Soedjojono.
  • Bulan September  Srihadi memamerkan 60 karya lukisannya dalam acara peringatan 25 tahun hubungan sister city antara kota Bandung dan Braunschweig, di Institut fur Auslandsbeziehungen Galerie, Bonn, Jerman.
  • Pada tahun ini, Srihadi juga terlibat di pameran-pameran skala Internasional antara lain  “The 2nd Seoul International Arts Exhibition”, Korea Selatan, The “4th ASEAN Exhibition of Painting and Photograph” yang berlangsung secara bergantian di Bangkok, Kuala Lumpur, SIngapura, Jakarta, dan Manila, dan pameran “The 2nd Asian Art Exhibition” di Fukuoka Art Museum, Jepang. Pada pameran “The 2nd Seoul International Arts Exhibition” di Korea Selatan, Srihadi berhasil mendapatkan piagam dan medali Seoul International Art Competition Award.

1986

  • Di tahun ini Srihadi hanya mengikuti satu pameran bersama yang diadakan di Taman Ismail Marzuki dengan tajuk “Fifty Painters”.
  • Srihadi kembali menjadi anggota juri pada penghargaan Hadiah Seni 1986 yang ke tujuh kalinya.

1987

  • Memasuki tahun 1987, Srihadi kembali mengadakan pameran tunggalnya yang bertajuk “Srihadi” di Hankyu Art Gallery, Osaka, Jepang. Selain pameran tunggal, Srihadi juga berpartisipasi dalam “Biennale Seni Lukis Indonesia VII” di Taman Ismail Marzuki dan pameran “Internationalen Kunstausstellung der Akademie MIDI” di Akademi MIDI, Munich, Jerman.

1988

  • Bulan Desember, Srihadi kembali menerima penghargaan Anugrah Seni yang diadakan oleh Direktorat Kesenian Ditjen Kebudayaan Departemen P & K di Gedung Pameran Seni Rupa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta. Menemani penganugrahan ini, diadakan pula sebuah pameran yang bertajuk “Pameran Lukisan 8 Pelukis Penerima Anugrah Seni dan 17 Pelukis”.
  • Srihadi dipilih menjadi ketua dan anggota delegasi RI ke “ASEAN Symposium on Paintings and Photography” di Jakarta.

1989

  • Pada tahun ini Srihadi menjadi penerima piagam dan medali Satyalancana Karya Satya RI dari pemerintah Indonesia atas prestasi dan perannya dalam perkembangan seni rupa dan kebudayaan Indonesia. Selain menerima penghargaan, Srihadi juga menutup dasawarsa 1980-an ini dengan pameran “The 1989 Rotary International Painting Exhibition” di Hotel Borobudur, Jakarta, dan pameran “Biennale Indonesia VII” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
  • Srihadi dipilih kembali untuk menjadi juri Hadiah Seni RI 1989 yang ke delapan kalinya.

1990

  • Selain kembali menjadi juri pada acara Hadiah Seni 1990, Srihadi juga menjadi anggota juri Painting of the Year Competition 1990 yang diadakan oleh United Overseas Bank (UOB), Singapura yang ke dua kalinya.
  • Pada bulan Desember Srihadi bersama dengan 13 pelukis Indonesia dan 8 pelukis tamu terlibat dalam pameran besar lukisan cat air dengan tajuk “Nuansa Akuarel” yang diadakan di Galeri Mon Décor, Jakarta. Pameran ini menyertakan nama-nama pelukis yang berkutat dengan medium cat air, seperti Chris Suharso, Lie Tjoen Tjay, Paul Nagano, Omar Basalmah, Rudolf G. Usman, Ong Kim Seng, Prof. Dr. Koentjaraningrat, Benny Setiawan, Harlim, Supriyadi dan lain sebagainya. Selain karya-karya pelukis di atas, Mon Décor juga menampilkan karya-karya pelukis maestro, seperti Abdullah Surio Soebroto, G.P. Adolfs, L. Eland, dan W. Dooijewaard.

1991

  • Pada bulan September Srihadi terpilih menjadi salah satu seniman dalam pameran KIAS – pameran seni rupa modern Indonesia – di Mills College, Amerika Serikat. Pameran ini terselenggara hingga akhir Oktober 1991 dan menampilkan 64 karya seni rupa.
  • Selain pameran KIAS, pada tahun ini Srihadi juga ikut serta dalam pameran “Art Expo 1991: Indonesia-Europe Exhibition” di Galeri Nasional Indonesia dan pameran Modern Indonesian Art yang merupakan salah satu program dalam perhelatan “Festival Istiqlal” di Masjid Istiqlal, Jakarta.

1992

  • Srihadi diangkat sebagai Guru Besar di Institut Teknologi Bandung.
  • Pameran Tunggal “The Spirit and Energy”,  Braga Art Gallery, Bandung
  • Srihadi menjadi anggota juri Hadiah Seni 1992 untuk yang ke sepuluh kalinya.
  • Pada bulan Juni ASEAN kembali mengadakan pameran seni rupa yang diikuti oleh seniman-seniman terpilih Asia Tenggara di National Art Gallery of Singapore.

1993

  • Bersama dengan seniman-seniman Indonesia lainnya Srihadi menjadi wakil Indonesia dalam “Asia-Pasific Triennial of Contemporary Art” di Queensland Gallery, Australia.
  • Dari bulan April Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia bekerja sama dengan Gate Foundation dari Belanda menyelenggarakan pameran seni lukis modern Indonesia di Oude Kerk, Amsterdam, Belanda, hingga Mei. Lukisan yang dipamerkan, antara lain merupakan karya-karya Srihadi Soedarsono, Made Wianta, S. Soedjojono, Heri Dono, dan beberapa seniman lainnya.

1994

  • Bulan Januari, Singapore Art Museum mengadakan pameran karya-karya seni rupa Indonesia yang diberi judul “From Ritual To Romance, Paintings Inspired By Bali”. Seniman-seniman yang berpartisipasi, antara lain: Srihadi Soedarsono, Affandi, Widayat, Anton Kustia Wijaya, Lee Man Fong, Anak Agung Gede Sobrat, Ida Bagus Made, dan lain sebagainya.

1995

  • Srihadi menerima penghargaan medali dan piagam Perjuangan Angkatan ’45 dan gelar Kanjeng Pangeran (KP) dari Paku Buwono XII, Karaton Surakarta Hadiningrat.
  • Selain itu, Srihadi juga mengikuti beberapa pameran di dalam dan luar negeri, seperti pameran “The 9th Asian International Art Festival” di National Museum of History, Taiwan; pameran “Contemporary Art of the Non-Alligned Countries” di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta; dan pameran “Figuratif” di Andy’s Gallery, Jakarta, pada bulan Agustus 1995.

1996

  • Srihadi menjadi dosen tamu di The Queensland University of Technology,Brisbane, Australia.
  • Srihadi terpilih dalam deretan atas Pelukis Terbaik 1996 yang didasarkan pada pendapat 11 pengamat seni rupa Indonesia, seperti Kusnadi, Budi Setiadharma, Sudarmadji, Surya Iskandar, Efix Mulyadi, Oei Hong Djien, Suteja Neka, Suwarno Wisetrotomo, Djoko Subandono, Jean Couteau, dan Agus Dermawan T.
  • Pada tahun yang sama, Srihadi juga menerima penghargaan piagam dan medali Satyalancana Karya Satya RI 30 Tahun dari pemerintah Republik Indonesia.
  • Selain itu, Srihadi juga berpartisipasi dalam pameran “Asian Modernism: Diverse Development In Indonesia, the Philliphines, and Thailand” yang diadakan secara bergilir di Japan Foundation Forum, Tokyo; Metropolitan Museum, Manila; National Gallery, Bangkok; dan Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.

1997

  • Pada tahun ini Srihadi aktif mengikuti beberapa pameran di luar negeri, seperti pameran “The Birth of Modern Art In Southeast Asian: Artists And Movements” di Fukuoka Art Museum, Jepang; pameran “Indonesian Modern Art And Beyond” di Davos, Swiss, yang diadakan bersamaan dengan pertemuan World Economic Forum; serta pameran bersama staf pengajar Institut Teknologi Bandung dengan staf pengajar dari Kyungsung University di Kyungsung University, Korea Selatan.
  • Selain berpameran, Srihadi juga dipilih untuk menjadi anggota juri Sayembara Seni Lukis The Phillip Morris – Indonesian Art Awards 1997 di Jakarta.

1998

  • Atas dedikasinya dalam dunia akademi, Srihadi menerima penghargaan piagam dan medali Bakti Cendekia Utama Institut Teknologi Bandung.
  • Di tahun ini, Srihadi mengikuti dua buah pameran, yaitu “ASEAN Masterworks” yang diadakan di National Art Gallery, Malaysia, dan pameran “Biennial Indonesia XI” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

1999

  • Pada bulan Agustus Setelah beberapa tahun absen mengadakan pameran tunggal, Srihadi mengadakan pameran tunggal sketsa-sketsa perjuangan peristiwa tahun 1947-1948 yang bertajuk “Srihadi: Seni Rupa dan Sejarah” di Galeri Lontar, Jakarta. Pameran ini ditemani dengan peluncuran buku tentang Srihadi yang berjudul “Srihadi dan Paradigma Seni Rupa Indonesia” terbitan Kalam, Indonesia.
  • Selain itu, Srihadi juga mengikuti satu pameran bersama di Singapore Art Museum yang bertajuk “Soul Ties: The Land and Her People – Art From Indonesia”.
  • Srihadi kemudian menerima piagam penghargaan Academical Commander, Ordine Accademica Internazionale ‘Greci Marino’ dari Italia.

2000

  • Di tahun ini, Srihadi hanya mengikuti satu pameran bersama di Singapore Art Museum, Singapura, dengan judul “Visions And Enchantment: Southeast Asian Paintings”.
  • Namun tidak hanya itu, Srihadi juga tergabung sebagai anggota Research Board of Advisors dalam American Biographical Institute.

2003

  • Srihadi menjadi ketua dan anggota tim juri dalam penghargaan Indofood Art Awards 2003.
  • Sama seperti tahun sebelumnya, Srihadi hanya mengikuti satu pameran bersama dengan tajuk “The Salman Painting Exhibition And Auction” di Museum Nasional, Jakarta.
  • Di tahun ini terdapat dua buku mengenai Srihadi dan karya-karyanya yang diluncurkan di Jakarta. Buku pertama ditulis oleh Jean Couteau berjudul “Srihadi Soedarsono – The Path of the Soul”. Buku ini diluncurkan di Hotel Mulia, Jakarta. Buku berikutnya berjudul “SRIHADI, Poetry Without Words” oleh Suwarno Wisetrotomo dan Farida Srihadi. Buku ini diluncurkan di Hotel Dharmawangsa, Jakarta.

2004

  • Srihadi diundang untuk menjadi seniman tamu dalam Visiting Art Program di Singapore Tyler Print Institute, Singapura.
  • Srihadi memamerkan karya-karya yang dibuatnya sebagai seniman tamu yang bertajuk “Srihadi: Horizons” di Singapore Tyler Print Institute (STPI), Singapura. Pameran tunggal ini diikuti juga dengan program workshop.
  • Selain berpameran tunggal, Srihadi juga mengikuti beberapa pameran bersama, seperti pameran seni lukis “Ksatria Seni 2004” di Museum Rudana, Bali; “Art Singapore 2004 – The Contemporary Asian Art Fair” di Singapura; dan pameran sekaligus lelang amal  bertajuk “Untuk Saudaraku di Aceh dan Sumatra Utara” di Balai Lelang Cempaka, Jakarta.
  • Srihadi mendapatkan penghargaan piagam dan medali Satyalancana Kebudayaan RI dari pemerintah Indonesia atas prestasi dan pencapaiannya mengembangkan seni dan kebudyaaan di Indonesia. Selain itu,  Srihadi juga mendapat penghargaan dari Museum Rudana, Bali, dalam Ksatria Seni Awards 2004.

2005

  • Srihadi kembali mengadakan pameran tunggalnya di Singapore Tyler Print Institute, Singapura, dengan judul pameran “Srihadi Soedarsono – Tracing Horizons”.
  • Srihadi juga dipilih sebagai ketua dan anggota juri Pameran Kompetitif Seni Lukis di Taman Impian Jaya Ancol Golden Pallette 2005 yang diadakan di Jakarta.
  • Sepanjang tahun ini, Srihadi mengikuti dua buah pameran di Indonesia, yaitu pameran “The Art Exhibition: A Decade of the Museum Rudana” di Museum Rudana, Bali, dan pameran “21st and Beyond: 21st Anniversary of Edwin’s Gellery” di Edwin’s Gallery, Jakarta.
  • Selain itu, Srihadi juga berpartisipasi dalam sebuah pameran keliling Asia dengan judul “CUBISM IN ASIA: Unbounded Dialogue” yang diadakan pertama di National Museum of Art, Tokyo, Jepang; kemudian berlanjut ke National Museum of Contemporary Art, Seoul, Korea Selatan; dan terakhir di Singapore Art Museum, Singapura. Pameran ini berlanjut sampai tahun 2006.
  • Srihadi kemudian menerima penghargaan commemorative medal sebagai Man of the Year 2005 dari The American Biographical Institute.

2006

  • Pada tahun ini, Srihadi mengikuti beberapa pameran bersama, seperti pameran “The Jakarta Arts Council’s Paintings Exhibition” di Galeri Cipta, TIM, Jakarta, dan “Biennale Jakarta 2006: Beyond The Limits and Its Challenges” yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.
  • Selain itu, Srihadi juga berpameran bersama dengan seniman Singapura berjudul “Joint Exhibition of Srihadi Soedarsono and Chua Ek Kay” di Singapore Art Museum, Singapura. Pameran ini berlangsung hingga tahun berikutnya.
  • Srihadi menjadi anggota dewan juri Kompetisi Seni Lukis Nasional Jakarta Art Awards 2006 di Jakarta.

2007

  • Srihadi mengadakan pameran tunggal bertajuk “Srihadi Soedarsono – The Energy of Freedom” di ING Private Banking, Hilton Singapore, Singapura.
  • Selain berpameran tunggal, Srihadi juga cukup aktif berpameran bersama, seperti dalam pameran “Modern Indonesian Masters” di Museum Rudana, Bali; pameran dan lelang “Conscience Celebrate – September Art Event” di beberapa tempat, seperti Edwin’s Gallery, Pakuwon Group, Sampoerna Foundation, dan Gandaria Heights Marketing Gallery, Jakarta; pameran “Sh Contemporary 07” di Sanghai Exhibition Center, Shanghai, China; dan pameran “ARTSingapore 2007 – The Contemporary Asian Art Fair” di Suntec Singapore, Singapura.

2008

  • Srihadi mengikuti pameran “China International Galleries Exposition 2008” di China World Trade Center, Beijing, China. Selain itu, Srihadi juga mengikuti pameran “Manifesto: Pameran Besar Seni Rupa Indonesia” di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, dan pameran lukisan “Trisakti – 2008” di Museum Rudana, Bali.
  • Srihadi kembali menjadi anggota dewan juri yang ke dua kali pada perhelatan Kompetisi Seni Lukis Nasional Jakarta Art Awards 2008.
  • Srihadi mendapatkan piagam dan medali Anugrah Sewaka Winayaroha atas pengabdian terhadap pendidikan tinggi dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Nasional.

2009

  • Pada tahun ini, Srihadi mengikuti pameran, baik di dalam maupun di luar negeri. Salah satunya adalah pameran “Beyond The Dutch – Indonesie, Nederland en de Beeldende Kunsten van 1900 tot nu” di Centraal Museum, Utrecht, Belanda. Selain itu, Srihadi juga mengadakan beberapa pameran di dalam negeri, seperti “The Spirit of Art, Bali” di Museum Rudana, Bali; pameran “The Living Legends & Highlight of Edwin Rahardjo’s Collection” di Galeri Nasional Indonesia; dan pameran “Indonesia Contemporary Drawing” di tempat yang sama.

2010

  • Srihadi kembali mengikuti beberapa pameran bersama, seperti “Badut-Badut” di Galeri Hadiprana, Jakarta, dan pameran karya tokoh Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta yang berjudul “EXPLORARTION” di TIM, Jakarta.
  • Untuk ketiga kalinya, Srihadi kembali dipilih untuk menjadi anggota dewan juri Kompetisi Seni Lukis Nasional Jakarta Art Awards 2010.
  • Pada tahun ini, Srihadi juga menjadi bagian dari tim pengarah pembangunan Monumen Mayor Achmadi di Solo, Jawa Tengah.

2011

  • Tahun ini Srihadi kembali berpameran di Museum Rudana untuk kesekian kalinya dengan judul pameran “Bali Inspires dan Acaranya VRINDAVANA Yaitu Memuliakan Ketulusan”. Selain itu, Srihadi juga mengikuti pameran bersama dan lelang amal berjudul “The Silent Diplomacy” di The Ritz Carlton Pacific Place dan Srisasanti Arthouse, Jakarta. Selanjutnya, Srihadi juga berpameran di Singapura “33 Auction, pameran Flight for Light – Religiosity In Indonesian Art” di Art 1, Jakarta, dan terakhir pameran “9 Lives + 1” di Galeri Canna, Jakarta.
  • Dari Legiun Veteran RI (LVRI) cabang Bandung, Srihadi kemudian menerima “Bendera Sang Saka Merah Putih dan Bambu Runcing”.
  • Pada tahun ini, Srihadi genap berusia 80 tahun

2012

  • Nama Srihadi masuk dalam International Dictionary of Professionals yang dibuat oleh The American Biographical Institute.
  • Tahun ini Srihadi kembali mengadakan pameran tunggalnya yang ke-16 kali sejak pameran tunggal pertamanya di tahun 1962. Pameran ini dikuratori oleh Jim Supangkat dan menjadi program pameran pertama Art:1 New Museum,

Srihadi lulus sarjana dari FSRD ITB dan mendapat gelar masternya dari Ohio State University. Karya-karya awalnya banyak dipengarahui bentuk geometri sintetis yang kemudian ditransformasikan dalam bentuk abstraksi.

Beberapa pameran tunggal Srihadi ialah “Srihadi Soedarsono-The Energy of Freedom,” ING Private Banking, Hotel Hilton, Singapura (2007); “Srihadi Soedarsono-Tracing Horizons,” Singapore Tyler Print Institute, Singapura (2005); dan “Srihadi: Horizons,” Singapore Tyler Print Institute, Singapura (2004). Srihadi juga aktif berpameran dalam pameran bersama seperi “Flight for Light: Indonesian Art and Religiosity,” Art:1, Jakarta (2011); “Badut-badut,” Hadiprana Gallery, Jakarta (2010); “Indonesia Contemporary Drawing,” Galeri Nasional, Jakarta (2009); dan “Beyond Dutch,” Centraal Museum, Utrecht (2009)..
Disarikan dari berbagai sumber.


Fatal error: Call to a member function label() on a non-object in /home/mondecor/public_html/sites/all/modules/mailchimp/modules/mailchimp_lists/mailchimp_lists.module on line 844